Sains Akhirnya Punya Bukti Roh Tinggalkan Jasad Ketika Kita Mati, Begini Penelitiannya
Selama ini sains kerap mengindari pembahasan tentang roh tapi itu berubah setelah pandangan seorang ilmuwan
Gagasan tentang “roh atau arwah” menjadi inti dari banyak sistem kepercayaan sepanjang sejarah. Baik dalam agama, filsafat, atau bahkan cabang tertentu dari psikologi. Berbagai aliran pemikiran telah menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan tentang “apa yang terjadi pada kita setelah kematian?”
Walaupun teologi telah mengeksplorasi perjalanan spiritual jiwa, dan filsafat mempertanyakan perannya dalam kesadaran dan eksistensi, serta psikologi berfokus pada pikiran dan terkadang menyentuh gagasan tentang “diri yang lebih tinggi.” Kita belum mengetahui apa kata sains tentang jawaban dari pertanyaan tersebut.
Selama bertahun-tahun, sains arus utama telah menjauh dari apa pun yang berhubungan tentang konsep “roh.” Namun, hal itu berubah setelah muncul pandangan dari seorang ilmuwan Amerika.
Dr. Stuart Hameroff, ahli anestesi dan professor terhormat di Universitas Arizona, meyakini ia telah menemukan bukti ilmiah tentang “kesadaran” atau yang biasa disebut sebagai “roh” yang meninggalkan tubuh saat kematian.
Ia mengutip sebuah penelitian yang melibatkan tujuh pasien kritis, di mana sensor kecil dipasang pada kepala mereka beberapa menit sebelum alat bantu kehidupan dilepas. Ketika jantung mereka berhenti dan tekanan darah mereka turun menjadi nol. Sesuatu yang tidak terduga terjadi, yakni ledakan energi tiba-tiba menerangi otak.
“Kami melihat semuanya mati, lalu muncul aktivitas akhir ini,” jelas Hameroff dalam wawancara dengan Project Unity Podcast, seperti dilansir Times of India.
“Hampir seperti ada sesuatu yang masih terjadi ketika seharusnya tidak ada apa-apa.”
Aktivitas listrik misterius ini dikenal sebagai sinkroni gamma. Biasanya terjadi ketika kita sadar, berpikir, atau mempersepsikan sesuatu. Namun dalam kasus ini, aktivitas tersebut berlangsung hingga 90 detik setelah pasien dinyatakan secara klinis meninggal.
Hameroff meyakini lonjakkan otak pasca-kematian bisa mewakili sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekedar gerakan terakhir. Menurutnya, hal tersebut mungkin adalah “roh yang meninggalkan tubuh.”
Ia berpendapat bahwa kesadaran adalah proses berenergi rendah yang tertanam secara mendalam, mungkin beroperasi pada tingkat kuantum di dalam sel-sel otak. Gagasan ini sering disebut sebagai hipotesis otak kuantum yang menunjukkan bahwa kesadaran kita mungkin didorong oleh aktivitas subatomic antara neuron (sesuatu yang diperkirakan bertahan bahkan setelah kematian)
“Neuron adalah hal terakhir yang pergi,” kata dia. “intinya adalah, ini menunjukkan bahwa kesadaran mungkin adalah proses energi yang sangat rendah.” tambahnya
Selain itu, ia juga mengutip penelitian Dr. Robin Carhart-Harris, di mana beberapa individu diberi psilocybin dan mereka dilaporkan mengalami halusinasi. Namun, ketika MRI mereka “dingin dan gelap” seolah seperti koma, terdapat kekurangan aktivitas otak yang nyata. Hal ini semakin memperkuat teori otak kuantum, di mana otak berfungsi pada tingkat subatomik di luar apa yang kita ketahui selama ini.
Meskipun temuan ini belum membuktikan secara pasti, gagasan bahwa sesuatu masih akan terjadi setelah kematian (lebih dari sekedar berhentinya fungsi tubuh) dapat memberikan sedikit ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan. Lebih jauh, hal ini akan membuka peluang baru bagi dunia ilmiah untuk menyelidikinya lebih dalam.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey